“Tuan Chintakindi Kiran Kumar memiliki Jayalaxmi Paint Shop di Andhra Pradesh, India. Seperti banyak pemilik usaha kecil lainnya, ia bergantung pada perangkat point-of-sale, namun sering merasa khawatir terhadap serangan phishing dan pembobolan akun. Ia menganggap keamanan siber terlalu teknis untuk dirinya, sehingga tidak yakin bagaimana cara melindungi tokonya. Pelatihan APAC Cybersecurity Fund mengubah pandangannya tersebut. Kiran Kumar belajar mengenali upaya phishing, menggunakan kata sandi yang kuat bagi karyawan, serta memasang perlindungan endpoint pada seluruh perangkat tokonya. Untuk pertama kalinya, ia merasa aman menjalankan transaksi digital. Sejak itu, tokonya tidak pernah mengalami insiden siber, dan ia kini dengan percaya diri mengelola pembayaran sekaligus menjaga kepercayaan pelanggan. Ia juga membagikan praktik ini kepada staf dan rekan-rekannya, membuktikan bahwa usaha kecil pun dapat membangun ketahanan melalui kebiasaan keamanan siber yang sederhana namun efektif.”
“Saya mengelola Dato, sebuah perusahaan sosial di Kon Tum, Vietnam, yang bekerja dengan lebih dari 500 keluarga etnis minoritas dalam memproduksi rempah dan herbal. Awalnya saya pikir keamanan siber hanya untuk perusahaan besar—fokus saya hanya pada mempelajari alat digital untuk pemasaran. Namun setelah hampir kehilangan data pelanggan penting, saya merasa rentan. Ketika mengikuti pelatihan ACF, saya menyadari bahwa celah sekecil apa pun bisa membahayakan bisnis kami dan keluarga mitra kami. Saya belajar mengenali phishing, mengaktifkan autentikasi dua faktor, dan memperkenalkan praktik berbagi file yang lebih aman kepada tim. Dengan perubahan ini, keamanan bisnis kami semakin kuat, dan saya mengadakan sesi internal untuk membagikan pengetahuan tersebut. Kini saya melihat keamanan siber sebagai fondasi penting bagi pertumbuhan dan keberlanjutan bisnis kami—memastikan kami dapat berkembang aman di ekonomi digital.”
“Saya menjalankan Jihad Store, sebuah usaha kecil di Khulna, Bangladesh. Dulu saya mengandalkan Gmail untuk komunikasi dan bKash untuk pembayaran, tetapi saya tidak menyadari bahwa akun saya sangat rentan karena kata sandi yang lemah. Saat bisnis saya mulai berkembang secara online, risiko ini membuat saya cemas. Setelah mengikuti pelatihan APAC Cybersecurity Fund, saya menyadari bahwa keamanan siber bukan hanya untuk perusahaan besar—tetapi juga penting bagi pengusaha kecil seperti saya. Saya belajar membuat kata sandi yang kuat dan unik serta mengaktifkan autentikasi dua faktor. Langkah sederhana ini memberi saya kepercayaan diri untuk mengelola alat digital dengan aman. Sejak itu, saya mulai membimbing perempuan lain di komunitas saya agar mereka dapat mengamankan akun dan menghindari penipuan. Kini, pelatihan ini memberikan ketenangan bagi saya dan memungkinkan saya fokus melayani pelanggan tanpa rasa takut.”
“Saya menjalankan bisnis e-commerce di Rajshahi. Suatu hari, saya mendapat telepon yang mengatakan bahwa saya memenangkan hadiah uang besar, dan ‘petugas bank’ itu meminta PIN dompet digital saya untuk memproses hadiah tersebut. Awalnya saya senang, tetapi saya merasa ada yang janggal, dan saya menghentikan diri sebelum memberikan PIN. Pengalaman itu membuat saya takut dan menyadarkan saya betapa mudahnya orang bisa tertipu. Pelatihan APAC Cybersecurity Fund membantu saya memahami cara kerja penipuan seperti ini dan bagaimana melindungi diri. Saya belajar mengenali panggilan phishing, memblokir nomor mencurigakan, dan mengamankan akun dengan kata sandi yang lebih kuat. Sejak itu, saya membagikan pengetahuan ini kepada pemilik usaha kecil lainnya agar mereka tidak terjerat penipuan. Pelatihan ini benar-benar menjadi titik balik yang memberi saya kepercayaan diri untuk menjalankan bisnis online tanpa rasa takut.”
“Saya bergabung dengan ACF Cyber Clinic sebagai bagian dari modul ISRM saya, dengan latar belakang teknis yang kuat. Awalnya, saya melihat keamanan siber semata-mata sebagai tantangan teknis — tentang tools, framework, dan kelemahan sistem. Namun ketika bekerja dengan sebuah startup perangkat lunak nyata selama program berlangsung, perspektif saya berubah sepenuhnya. Saya belajar bahwa penilaian risiko bukan hanya mencentang daftar, tetapi memahami bagaimana sebuah bisnis benar-benar beroperasi dan bagaimana masalah keamanan dapat berdampak pada keuangan maupun reputasi mereka. Salah satu keterampilan terpenting yang saya pelajari adalah menjelaskan risiko teknis dalam bahasa yang mudah dipahami pemilik UMKM. Alih-alih menjelaskan ‘SQL injection’ secara teknis, saya belajar menjelaskannya sebagai risiko pencurian data pelanggan dan hilangnya kepercayaan mereka. Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa peran saya bukan hanya menemukan masalah — tetapi membantu bisnis melindungi diri mereka dengan cara yang realistis dan terjangkau. Ini benar-benar mengubah cara saya melihat kontribusi saya terhadap komunitas.”
“Sebagai Kepala Desa Khok Lam di Udon Thani, saya sering merasa tidak yakin tentang bagaimana melindungi keamanan digital saya. Seperti banyak orang di komunitas saya, saya sebelumnya bergantung pada orang lain untuk membuatkan akun dan mengatur kata sandi — yang sebenarnya membuat saya lebih rentan terhadap penipuan online. Ketika saya mengikuti pelatihan ACF, saya awalnya merasa bahwa keamanan siber terlalu sulit untuk saya pahami. Namun pelatihan tersebut menunjukkan langkah-langkah praktis yang bisa saya lakukan sendiri. Saya belajar membuat kata sandi yang kuat, menghapus akun yang tidak lagi digunakan, dan menggunakan aplikasi dari Google Play Store dengan aman. Untuk pertama kalinya, saya merasa benar-benar mengendalikan ponsel dan akun digital saya. Setelah pelatihan, saya membagikan pengetahuan ini melalui radio komunitas dan langsung kepada warga desa — mendorong mereka untuk menerapkan kebiasaan digital yang lebih aman. Hari ini, saya bisa mengatakan bahwa program ini benar-benar membuka mata saya: bukan hanya melindungi kehidupan digital saya, tetapi juga memberi saya keyakinan untuk melindungi seluruh komunitas dari penipuan online.”
“Saya menjalankan sebuah usaha kecil fesyen berkelanjutan di Sri Lanka, yang sangat bergantung pada penjualan online dan interaksi digital dengan pelanggan. Sebelum mengikuti Program Cyber Hygiene Awareness ACF, keamanan siber tidak pernah menjadi bagian dari strategi bisnis saya — fokus saya hanya pada penjualan dan operasi, tanpa menyadari bahwa ancaman digital dapat berdampak langsung pada kelangsungan bisnis dan hubungan pelanggan. Pelatihan ini mengajarkan saya keterampilan keamanan siber yang praktis: kami mengaktifkan autentikasi dua faktor, memperkuat praktik kata sandi, dan membuat pedoman internal untuk komunikasi digital yang lebih aman. Langkah-langkah ini membantu mengamankan platform online kami, melindungi data pelanggan, dan mengurangi gangguan transaksi digital. Ketika serangan phishing menargetkan jaringan kami, kami dapat mengidentifikasi dan merespons dengan cepat — mencegah kerugian finansial. Kejadian itu menegaskan betapa pentingnya kesiapsiagaan. Kini, saya melakukan tinjauan keamanan digital secara berkala, mengedukasi staf dan mitra, dan menerapkan kebersihan siber dalam operasi harian. Hari ini, pelanggan dan bisnis kami jauh lebih terlindungi, dan perusahaan kami menjadi lebih tangguh.”
“Mohini Namjoshi menjalankan usaha pakaian kecil di Pune, India, di mana sebagian besar interaksi pelanggan terjadi melalui media sosial. Ia pernah khawatir bahwa penipuan phishing atau peretasan akun dapat mengancam bisnisnya. Sebelum mengikuti pelatihan APAC Cybersecurity Fund, ia menganggap alat keamanan rumit dan sulit dijangkau. Program ini mengubah pola pikirnya dengan menunjukkan bahwa langkah-langkah tersebut sebenarnya praktis dan mudah diterapkan. Mohini belajar mengaktifkan autentikasi dua faktor menggunakan Google Authenticator, rutin meninjau aktivitas login, serta waspada terhadap pesan phishing di direct message. Langkah-langkah ini memberinya ketenangan untuk terus berjualan secara daring. Kini, ia mengelola kehadiran digitalnya dengan percaya diri, membagikan pengetahuannya kepada karyawan, dan mendorong sesama pengusaha perempuan untuk memprioritaskan keamanan siber.”
“Saya menjalankan sebuah toko aksesori ponsel di Dhaka, Bangladesh. Suatu hari saya menerima telepon yang mengatakan bahwa saya memenangkan hadiah uang tunai melalui platform dompet digital. Penelpon itu meminta saya mengirimkan sejumlah kecil uang sebagai ‘verifikasi’ — dan saya menurutinya. Baru kemudian saya sadar bahwa itu adalah penipuan. Merasa kecewa dan terguncang, saya memutuskan untuk mengikuti pelatihan ACF. Sebelum itu, saya percaya bahwa penipuan seperti ini adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari. Namun melalui program ini saya belajar mengenali tanda-tanda penipuan, memperkuat kata sandi, dan memperbarui keamanan ponsel saya. Dengan kepercayaan diri yang baru, saya mulai mengedukasi pelanggan saya tentang praktik digital yang aman setiap kali mereka membeli produk dari toko saya. Pelatihan ini mengubah pengalaman buruk saya menjadi momen pembelajaran — bukan hanya untuk saya, tetapi juga untuk komunitas saya. Sekarang, saya melihat diri saya sebagai seorang pendukung praktik digital yang lebih aman.”
“Saya datang ke Cyber Clinic dengan pengalaman minim dalam keamanan siber, tetapi memiliki ketertarikan besar pada bagaimana teknologi dapat memberi dampak sosial. Saya melihat pelatihan ini sebagai kesempatan untuk mencoba sesuatu yang benar-benar baru. Selama mengikuti sesi, saya terkejut melihat betapa rentannya individu dan organisasi terhadap ancaman online, namun saya merasa optimis karena kesadaran dan kebiasaan sederhana dapat memperkuat keamanan digital. Salah satu pelajaran terbesar saya adalah bagaimana menjelaskan keamanan siber dengan bahasa yang mudah dipahami oleh orang non-teknis. Langkah-langkah dasar seperti mengenali phishing atau mengaktifkan autentikasi dua faktor sudah sangat membantu meningkatkan keamanan UMKM. Menjadi bagian dari Cyber Clinic mengubah cara saya melihat peran saya di komunitas. Saya bukan hanya seorang pembelajar — saya sekarang seorang advokat yang berbagi ilmu praktis dan membantu orang lain menjaga keamanan digital mereka.”
“Di NNR Global Logistics, sebuah perusahaan logistik kecil di Singapura, kami sering menghadapi upaya phishing. Pada awalnya, kami menganggap keamanan siber sebagai tanggung jawab departemen IT saja. Namun demi meningkatkan keamanan, kami mengikuti ACF Cyber Clinic yang dipandu oleh para mahasiswa dari Temasek Polytechnic. Melalui sesi-sesi ini, kami mulai memahami bahwa keamanan siber adalah bagian dari kesehatan bisnis — bukan hanya masalah teknis. Kami meninjau kembali protokol kata sandi, memperkuat keamanan perangkat, dan melatih staf untuk lebih jeli mengenali pesan phishing. Sejak itu, kami melakukan audit keamanan triwulanan — dan staf melaporkan tingkat kepercayaan diri yang jauh lebih tinggi dalam menangani risiko digital. Saat ini, kami memandang keamanan siber sebagai prioritas bisnis utama, yang memastikan operasi lebih lancar dan kepercayaan pelanggan lebih kuat.”
“Saya mengikuti pelatihan ACF Cyber Clinic untuk mendapatkan pengalaman langsung dan menerapkan apa yang saya pelajari di kelas pada situasi nyata. Melalui program ini, saya mengembangkan keterampilan dalam manajemen risiko keamanan siber — melakukan asesmen, mengidentifikasi kerentanan, dan mengusulkan solusi yang realistis bagi UMKM meskipun dengan sumber daya terbatas. Tim kami bekerja dengan sebuah rumah sakit swasta kecil, dan saya harus berkomunikasi dengan staf yang hampir tidak memiliki latar belakang teknis. Di sana saya belajar bagaimana menjelaskan konsep keamanan siber dalam bahasa yang sederhana, sehingga mereka dapat memahami mengapa melindungi aset digital itu penting. Saya juga membuat materi edukasi dan kuesioner untuk menilai pemahaman staf setelah sesi pelatihan. Pengalaman ini memperkuat kemampuan teknis dan komunikasi saya. Yang paling penting, saya menyadari bahwa banyak insiden siber terjadi bukan karena serangan yang canggih, tetapi karena kurangnya kesadaran. Sekarang saya melihat peran saya tidak hanya untuk melindungi sistem, tetapi juga membangun budaya keamanan siber di komunitas saya. Upaya kecil namun konsisten dapat memberikan dampak besar.”
“Saya adalah mahasiswa tingkat akhir di program Diploma Cybersecurity & Digital Forensics, Temasek Polytechnic. Saya juga berperan sebagai fasilitator di Cybersecurity Clinic Temasek Polytechnic, di mana saya membantu meningkatkan kesadaran keamanan siber bagi staf di perusahaan-perusahaan lokal. Banyak individu dan usaha kecil menengah (UKM) bergantung pada alat digital, namun belum tentu siap menghadapi ancaman daring. Melalui Cybersecurity Clinic, saya berkesempatan memfasilitasi sesi pelatihan dengan perusahaan dari berbagai industri. Pengalaman ini memberi saya pemahaman yang lebih mendalam tentang berbagai aspek keamanan siber, termasuk tata kelola serta penilaian risiko.”
“Saya adalah seorang pengusaha kecil di Jakarta, dan suatu hari saya menerima telepon dari seseorang yang mengaku dari bank BUMN. Ia menekan saya untuk mentransfer uang untuk ‘pinjaman tertunggak’ yang sama sekali tidak saya ingat. Saya takut dan bingung, tetapi berkat pelatihan dari APAC Cybersecurity Fund, saya mengenali tanda-tanda penipuan dan menolak permintaan itu. Dulu saya pikir penipuan terjadi karena ‘sial’, tetapi sekarang saya mengerti cara kerja penipuan dan bagaimana melindungi diri saya. Setelah pelatihan, saya memperkuat kata sandi, mengaktifkan autentikasi dua faktor, dan mulai menggunakan pengelola kata sandi untuk menjaga keamanan akun. Sekarang saya membagikan tips ini kepada perempuan lain dalam kelompok UMKM saya, mengingatkan mereka untuk selalu memeriksa permintaan mencurigakan sebelum bertindak. Pelatihan ini menjadi titik balik bagi saya, memberi saya kepercayaan diri untuk menjalankan usaha tanpa rasa takut.”
“Saya pernah menjadi korban penipuan online, dan saya tidak ingin keluarga saya atau warga Filipina lainnya mengalami hal yang sama. Meskipun saya sudah memiliki sedikit pengetahuan tentang penipuan online, ketika kejadian itu terjadi pada saya sendiri, saya sadar bahwa saya belum memiliki keterampilan yang cukup untuk menganalisis dan merespons dengan benar. Pengalaman itulah yang mendorong saya menjadi pelatih di ACF. Melalui program ini, tujuan saya adalah membekali masyarakat Filipina bukan hanya dengan pengetahuan untuk mencegah ancaman siber, tetapi juga keterampilan praktis untuk merespons ketika mereka diserang. Pendekatan ACF yang sederhana dan mudah dipahami membuatnya cocok untuk masyarakat umum. Salah satu momen yang paling berkesan adalah ketika seorang peserta mengatakan bahwa sesi kami mengubah definisi ‘melek teknologi’ baginya — bukan tentang menggunakan banyak aplikasi, tetapi tentang melindungi diri dan komunitas. Bergabung dengan ACF telah memperkuat tujuan saya sebagai pelatih dan memungkinkan saya membantu UMKM membangun kepercayaan diri untuk tetap aman secara digital.”
“Saya dibesarkan di daerah pedesaan, dan saya sering melihat bagaimana banyak orang menjadi korban penipuan online karena kurangnya kesadaran serta tidak memiliki alat untuk melindungi diri. Ketika saya diajak bergabung dengan ACF sebagai pelatih, saya langsung setuju. Saya merasa ini adalah cara bermakna untuk membantu pemilik usaha kecil yang mengandalkan media sosial dan platform online tetapi tidak tahu cara melindungi diri. Salah satu momen paling membuka mata terjadi ketika pelatihan di komunitas pedesaan — banyak peserta percaya bahwa pembaruan perangkat itu berbahaya atau tidak penting. Saya menjelaskan bahwa pembaruan membawa perbaikan keamanan dan memandu mereka langkah demi langkah. Beberapa bahkan memperbarui ponsel mereka untuk pertama kalinya dan kemudian mengajarkannya kepada keluarga mereka. Melalui ACF, saya berkembang sebagai pelatih, mempelajari cara menjelaskan konsep keamanan siber dalam bahasa yang sederhana, termasuk dalam bahasa Iban, sehingga sesi menjadi lebih menarik dan relevan bagi UMKM di Kanowit, Sarawak.”
“Melalui ACF Cyber Clinic, saya belajar bahwa bahkan kebiasaan keamanan siber yang sederhana dapat meningkatkan keamanan usaha kecil secara signifikan. Saya sangat tertarik mempelajari bagaimana sistem online bekerja dan bagaimana sistem tersebut dapat dilindungi dengan lebih baik. Pelatihan ini mengajarkan saya cara mengidentifikasi ancaman siber umum, menilai risiko, dan membimbing UMKM dalam langkah-langkah praktis seperti mengamankan akun, melindungi data pelanggan, dan membangun kebiasaan digital yang lebih aman. Melihat para pemilik bisnis menjadi lebih percaya diri setelah menerapkan langkah-langkah ini memberikan saya kepuasan tersendiri. Saya menyadari bahwa keamanan siber bukan hanya tentang alat yang rumit — tetapi tentang kesadaran dan praktik yang konsisten. Menjadi bagian dari Cyber Clinic mengubah cara saya melihat peran saya. Sekarang saya melihat diri saya sebagai seorang advokat yang membantu orang lain mengambil tindakan sederhana dan terjangkau agar tetap aman online dan membangun bisnis yang lebih tangguh.”
“Saya memutuskan bergabung dengan Cyber Clinic karena salah satu anggota keluarga saya belajar keamanan siber, dan saya tertarik melihat bagaimana cara pandang mereka terhadap teknologi sangat berbeda dari saya. Saya ingin memahami pola pikir itu. Cyber Clinic memberi saya kesempatan tersebut. Program ini menunjukkan bahwa perangkat lunak atau masalah yang sama bisa dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Selama latihan, kami menghadapi sistem yang tidak familiar, masalah perangkat keras, dan berbagai error. Ada kalanya membuat frustrasi, tetapi dari situ saya belajar tentang kesabaran dan ketekunan. Saya belajar bahwa setiap masalah pasti ada solusinya — hanya perlu waktu dan usaha untuk menemukannya. Pola pikir ini berguna bukan hanya dalam keamanan siber, tetapi juga dalam bisnis dan kehidupan sehari-hari, terutama bagi pelaku usaha kecil. Pengalaman ini mengubah cara saya memandang keamanan digital. Sekarang saya lebih sadar terhadap risiko yang sering diabaikan dan merasa lebih percaya diri dengan pengetahuan praktis untuk melindungi diri dan komunitas saya.”